Review Buku Bahagia Ketika Ikhlas

Minggu, 28 Desember 2014

     Judul       : Bahagia Ketika Ikhlas

Penulis    : Rena Puspa

Penerbit   : Elex Media

Jenis       : Non fiksi      

Hal          : 186 hal

Tahun      : 2014

ISBN        : 978-602-02-4557-7


“Anaknya berapa, Mbak?” tanya seorang Ibu pada saya beberapa bulan lalu.


“Belum dikasi, Bu. Masih diminta bersabar,” saya menjawab  sambil tersenyum.



Pertanyaan-pertanyaan di atas sudah menjadi makanan saya jika bertemu dengan orang-orang yang baru. Lalu apa yang saya rasakan ketika pertanyaan sejenis ditujukan kepada saya? Sakit hatikah? Enggak tuh. Toh, itu pertanyaan yang wajar. Sedih? Iya, sedikit sedih kalau mengingat usia pernikahan yang hampir menginjak 4,5 tahun dan belum ada tanda-tanda kehamilan sedikit pun.

 Menjadi seorang ibu pasti adalah dambaan banyak wanita yang telah menikah. Hamil, melahirkan, dan menimang bayi, impian yang sangat wajar bukan? Ketika saya dan banyak wanita di luar sana berharap akan anugerah indah tersebut, sebagian wanita yang lain (dan telah menjadi Ibu) meributkan (serta saling bully) tentang persalinan normal dan melalui operasi cesar, pemberian ASI dan susu formula, dan belum lagi tentang Ibu bekerja dan ibu rumah tangga. 

Ketika membaca hal-hal yang diributkan tersebut membuat saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa para wanita ini meributkan hal-hal seperti itu, sadarkah mereka di luar sana banyak sekali wanita yang menginginkan posisi mereka, menikah dan memiliki putra? Sadarkah mereka bahwa wanita-wanita tersebut rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya? Bahkan sempat terlintas dalam benak saya, kalau dengan dibully kemudian saya bisa mendapatkan keturunan, no problemo deh kayaknya haha.

Ketika membaca buku Bahagia Ketika Ikhlas, pandangan saya menjadi sedikit berbeda terhadap para ibu yang saling nyinyir tersebut. Di dalam buku ini terdapat bab pendahuluan yang berisi tentang bagaimana wanita memerlukan altualisasi diri yang berimbang dalam hidupnya. Halini untuk menghindarkan dari kecemasan yang berlebihan dalm menjalankan peran ganda dalam kehidupan.

Pada bab 2 dan 3 dijelaskan dengan gamblang tentang penyebab stres baik secara hormonal mau pun eksternal pada Ibu. Jujur penjelasan secara teoritis ini tidak pernah terpikirkan oleh saya. Jadi ketika membaca saya dengan senang hati, ber-Oh-Oh ria. Oh ternyata begini, oh begitu to haha.

Pada bab berikutnya, peulis memberikan pemahaman bahwa menjadi Ibu yang apa adanya adalah hal terbaik bagi si bu dan orang-orang di sekelilingnya. Yup, terkadang kita berusaha sebaik mungkin untuk melakukan tugas kita, tetapi kita lupa keterbatasan kita sebagai manusia itu nyata. 

Dua bab terakhir adalah akan menuntun kita untuk bisa menerima diri dan berbahagia dengan jalan ikhlas. Tidak hanya kebahagiaan yang bisa diraih tetapi juga kesuksesan dunia akhirat bisa kita raih dengan keikhlasan. Yang saya suka, penulis menitikberatkan doa sebagai pembuka kebahagiaan. yang saya catat baik-baik adalah tips dan trik berdoa efektif, yaitu minta, yakin, dan terima. Penasaran? Yuk, dibaca buku yangso pinky ini :)
1 komentar on "Review Buku Bahagia Ketika Ikhlas"
  1. iya ya, mba. padahal di luar sana banyak yang pengen punya anak tapi belum kesampaian. tapi yang dikasih malah saling bully. :(

    BalasHapus