The Mocha Eyes, Menemukan Cinta dalam Secangkir Moka

Selasa, 31 Desember 2013

Penulis : Aida M.A.

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal Buku   : x + 250 hlm

Tahun  : Mei 2013

Harga : Rp. 44.000

ISBN : 978-602-7888-32-6

Cinta memang kombinasi yang aneh dan tidak terduga, antara pengertian dan ketidakmengertian (The Mocha Eyes; 215).

Muara, seorang gadis yang memiliki tiga pengalaman buruk di masa lalunya. Diperkosa, ayahnya meninggal karena teror dari si pemerkosa, dan ditinggalkan pacar yang dicintainya. Gadis ini rapuh, serapuh-rapuhnya. Dia belum bisa berdamai dengan masa lalu yang menawarkan mimpi buruk setiap malam baginya. Trauma membuatnya menghindar dari orang lain, bersembunyi di cangkang yang berupa sikap yang acuh dan suka menyendiri. Hingga akhirnya cinta menyapanya melalui perantara setengah cangkir moka.

Fariz, si womanizer, julukan yang diberikan Muara padanya. Seorang laki-laki yang tidak perlu bersusah payah membuat mata wanita untuk memberikan perhatian padanya. Dia tidak bisa dikatakan playboy, akan tetapi lebih cenderung ‘melayani’ para kliennya. Sebuah penggambaran yang cukup bersih bagi seorang pria yang sangat menarik hati. Dan dia jatuh cinta kepada gadis yang hanya tahu pahitnya rasa kopi.

Dulu, ada yang bertanya pada saya, apa itu kopi menurut sudut pandang saya? Kata si penanya, jawaban tentang kopi ini secara psikologis akan menunjukkan bagaimana kita melihat dunia di sekeliling kita. Saya tidak mencari tahu apakah pertanyaan tentang kopi ini memang benar ada teorinya dalam ilmu psikologi, akan tetapi hal ini menarik sekali ketika dalam novel The Mocha Eyes, juga terdapat banyak sekali hubungan filosofis tentang kopi dalam kehidupan para tokohnya.

Kopi, bagi Muara, adalah alat untuk membuatnya tetap terjaga di kala kantuk menyerang di pagi hari. Bagi seorang pengidap insomnia seperti Muara, tentu kopi adalah sahabat terdekatnya. Akan tetapi tidak dengan Fariz, si penyuka mochacinno. Moka adalah sebuah rasa yang unik dengan rasa pahit dari kopi yang bercampur dengan rasa manis dari coklat, membuat rasa moka memiliki sensasi tersendiri. Dan bagi Fariz, hidup ibarat seperti moka, ada kalanya pahit tapi tetap ada rasa manis dan gurih di sana.

Menarik sekali bukan kedua tokoh utama ini? Yang wanita mengalami intrvert akut, sedangkan yang laki-laki adalah sesosok manusia yang membuat banyak orang ingin mendekat padanya.

Mengambil tokoh wanita yang trauma terhadap masa lalu dan pria yang digilai banyak perempuan memang bukan hal yang baru, tetapi di The Mocha Eyes, kita bisa melihat bagaimana kedua tokoh diceritakan dengan sisi hidup dengan detil. Bagaimana mereka bekerja, seperti apa tempat kerja mereka, bagaimana kondisi batin dan lahir mereka, dengan kata lain deskripsi tempat dan kondisi tokoh-tokoh dapat digambarkan dengan baik.

Kisah roman yang terjalin antara dua tokoh ini terjalin manis dengan untaian pengantar kata yang sangat rapi. Si penulis dengan apik bisa membuat kita merasakan kegetiran hidup Muara, yang bahkan saya pun sampai merinding membayangkannya. Sedangkan sosok Prince Charming yang ada pada diri Fariz membuat pembaca (terutama wanita) membayangkan betapa mereka menginginkan pria ini.
Cara penceritaan yang silih berganti dari dua sudut pandang, Muara dan Fariz juga menjadi kekuatan pada novel ini. Kita seakan-akan ikut dibawa pada kepribadian dua orang tokoh yang sangat bertolak belakang tersebut.

Yang paling saya suka dari novel ini adalah banyaknya quote-quote yang bisa membuat kita semakin menyelami tentang hidup dan kehidupan, bahwa hidup tidak melulu pahit dan tidak pula selalu manis. Hidup adalah perpaduan antar kenangan dan kenyataan pahit dan manis yang terjadi yang tidak hanya perlu disesali akan tetapi juga dijalani dan berusaha bahgia saat ini, bukan menanti besok atau nanti.

Cover yang manis dan unik memang menarik hati saya ketika melihat novel The Mocha Eyes ini dan tidak bisa dipungkiri pula hal yang menarik lainnya adalah karena saya suka rasa moka.

Novel The Mocha Eyes ini sangat cocok bagi pecinta novel roman yang menginginkan cerita cinta yang tidak lebay, serta teman bersantai bagi sambil menyesap secangkir moccachino.
2 komentar on "The Mocha Eyes, Menemukan Cinta dalam Secangkir Moka"
  1. Iya mbak, ternyata kita sehati ya? hehehe....
    Judul dan pembuka yang sama!
    Semoga kita sama2 beruntung ya mbak..

    BalasHapus
  2. suka bacanya...tambah semangat berkarya hehehe

    BalasHapus