The God of Small Things

Rabu, 30 Oktober 2013

Judul                   : The God of Small Things
Penulis                : Arundhati Roy
ISBN                  : 0679457313 
Tebal                   : 321 halaman
Terbit                  : 1997

Sinopsis:

"They all crossed into forbidden territory. They all tampered with the laws that lay down who should be loved and how. And how much."

The year is 1969. In the state of Kerala, on the southernmost tip of India, fraternal twins Esthappen and Rahel fashion a childhood for themselves in the shade of the wreck that is their family. Their lonely, lovely mother, Ammu, (who loves by night the man her children love by day), fled an abusive marriage to live with their blind grandmother, Mammachi (who plays Handel on her violin), their beloved uncle Chacko (Rhodes scholar, pickle baron, radical Marxist, bottom-pincher), and their enemy, Baby Kochamma (ex-nun and incumbent grandaunt).

When Chacko's English ex-wife brings their daughter for a Christmas visit, the twins learn that Things Can Change in a Day. That lives can twist into new, ugly shapes, even cease forever, beside their river.... (from dust jacket)

-----000----- 

Novel The God of Small Things karya Arundhati Roy -yang memenangkan Booker Prize tahun 1997- merupakan novel yang merefleksikan kondisi sosial budaya yang melingkupinya. Melalui novel ini Arundhati menggugat permasalahan-permasalahan sosial yang ada di India. Permasalahan yang ada dalam novel ini sangatlah beraneka ragam mulai dari masalah kasta, ideologi, politik, sejarah, gender, seksualitas, agama, etnisitas dan ras, identitas budaya, isu postkolonialisme, dan bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Semua permasalahan tersebut terangkum menjadi satu kesatuan dan menjadikan novel ini sangat kompleks namun menarik untuk dikaji. Melalui gaya kritik yang sangat halus, Arundhati memberikan kritik tajam terhadap permasalahan sosial yang ada melalui kacamata tokoh-tokoh didalamnya.
The God of Small Things (Yang Maha Kecil) adalah novel yang kental dengan nuansa politik. Pada tahun 1960an, isu tentang kasta merupakan isu penting India khususnya di Ayemenem, sebuah desa di negara bagian Kerala. Sisi kemanusiaan yang digugat adalah bentuk-bentuk marjinalisasi sebagai dampak dari komunisme yang memang saat itu tumbuh subur di Kerala, sebab partai komunis menang secara mutlak di daerah tersebut.
Begitu juga dengan pergerakan kaum Naxilite yang merupakan bagian dari komunis ikut memberi warna dalam sprektum politik di India karena kaum ini merupakan komponen penting dalam sejarah kebudayaan India. Namun perubahan ini menyebabkan adanya goncangan pada kesatuan sekaligus menjadi tantangan serius bagi tatanan demokratis. Sebelumnya dapat dilihat bahwa arah pergerakan ini adalah pada perubahan sosio ekonomi, tetapi perubahan yang terjadi justru pada perubahan politik. Perubahan politik ini juga membawa ideologi marxis yaitu sosialis. Namun kegagalan ideologi ini menjadi dasar bagi kritik pengarang terhadap realitas sosial yang ada. 
               Sistem kasta yang ada di India sebagai salah satu bentuk penistaan eksistensi manusia mendapat porsi penting dalam novel ini. Sistem kasta pada kenyataannya menjadi alat untuk menghegemoni masyarakat India dengan cara yang halus, sehingga masyarakat justru menerimanya dengan senang hati, tanpa paksaan. Bentuk hegemoni melalui saluran-saluran kebudayaan inilah yang kemudian diistilahkan dengan hegemoni kultural.
Novel ini menjadi menarik untuk dibaca karena konsep permasalahan sosial yang diangkat pada dasarnya bisa terjadi dimana saja. Pengarang seakan hendak menggugat kegagalan ideologi komunis untuk melawan hegemoni sistem kasta yang ada di daerah ini. Sebagai ideologi yang mengajarkan kesetaraan ternyata harus kalah oleh hegemoni yang meninabobokkan masyarakat. Ini adalah kesadaran palsu yang dilestarikan demi kepentingan kaum tertentu. Hal ini  sangat menarik karena ada dua kubu yang seharusnya saling mendukung yaitu sosiali-komunis dengan ideologinya tentang kesetaraan namun ternyata melanggengkan realitas yang bertentangan yaitu sistem kasta.
Kontradiksi ini menjadi sangat menarik untuk dibaca secara lebih menyeluruh, tidak hanya sekedar tataran permukaan, akan tetapi  untuk mengungkap faktor-faktor budaya yang berperan dalam melanggengkan sistem kasta. 
Menyelesaikan novel The God of Small Things ini membutuhkan tenaga ekstra, bahasanya njlimet membuat saya harus membalik halaman ke belakang beberapa kali. Tapi cukup berharga untuk dilakukan kok hehe.
10 komentar on "The God of Small Things"
  1. Wow....reviewnya keren. Saya selalu gagal nyelesaiin buku ini *nunduk*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ini juga berusaha keras mbak :)

      Hapus
  2. menurutku buku ini terlampau padat - kebanyakan detail yang bikin pusing. hahaha...tapi mungkin juga karena pas baca aku masih kuliah, umur2 santai ;p entah kalo sekarang baca ulang lagi hihihi

    BalasHapus
  3. Dulu pernah sempat hampir beli buku ini, tp kata bapak yg nunggu stan kudu hati2 pas membacanya. akhirnya saya ga jadi beli deh (keder duluan). Untung ada resensi ini, jadinya saya tahu kenapa kok buku ini bagus dan perlu hati2 membacanya. Thanks ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, berarti si bapak udah baca ya Mas, hebat euy
      ayo mas dibaca :)

      Hapus
  4. Wah, isinya berat ya. selalu nyerah kalo baca yg berhubungan dg politik ._.

    BalasHapus
  5. Halo, aku minta izin pake reviewnya untuk dipasang di booth BBI di IRF ya. Tq!

    BalasHapus