Memoirs of A Geisha

Minggu, 27 Oktober 2013

Judul             : Memoirs of A Geisha
Penulis          : Arthur Golden
ISBN           : 0739326228
Tahun Terbit : 2005
Penerbit        : Random House
Tebal            : 434 halaman

Summary (Sinopsis):


In this literary tour de force, novelist Arthur Golden enters a remote and shimmeringly exotic world. For the protagonist of this peerlessly observant first novel is Sayuri, one of Japan's most celebrated geisha, a woman who is both performer and courtesan, slave and goddess.

We follow Sayuri from her childhood in an impoverished fishing village, where in 1929, she is sold to a representative of a geisha house, who is drawn by the child's unusual blue-grey eyes. From there she is taken to Gion, the pleasure district of Kyoto. She is nine years old. In the years that follow, as she works to pay back the price of her purchase, Sayuri will be schooled in music and dance, learn to apply the geisha's elaborate makeup, wear elaborate kimono, and care for a coiffure so fragile that it requires a special pillow. She will also acquire a magnanimous tutor and a venomous rival. Surviving the intrigues of her trade and the upheavals of war, the resourceful Sayuri is a romantic heroine on the order of Jane Eyre and Scarlett O'Hara. And Memoirs of a Geisha is a triumphant work - suspenseful, and utterly persuasive.
-----000-----

Novel Memoirs of A Geisha sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, karena itu novel ini sudah dikategorikan sebagai salah satu novel sastra dunia. Banyak sekali analisis versi teori sastra yang bertebaran di dunia maya. Kali ini saya hanya akan meresensi secara ringan dan sederhana saja. Etapi, saya tidak menemukan sinopsis dalam bahasa Indonesia, terpaksa sinopsisnya dalam bahasa Inggris ye hehe.

Novel ini bersetting di salah satu kota di Jepang, Kyoto, pada tahun 1930. Dan pada saat itu banyak sekali masyarakat Jepang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tokoh utama dalam novel ini adalah Chiyo, yang dijual oleh orang tuanya ke sebuah rumah Geisha. Tidak hanya Chiyo, bahkan kakaknya Satsu pun ikut dijual, tetapi sayang sekali Satsu tidak masuk standar di rumah Geisha tersebut, jadi dia dijual ke rumah pelacuran.

Perjalanan hidup CHiyo dan Satsu sangat berliku. Dari mulai pelarian bersama yang gagal, sehingga membuat Chiyo terancam tidak akan bisa menjadi Geisha. Hingga penindasan yang dilakukan Hatsumoto, senior di rumah Geisha tersebut. Hingga akhirnya, Chiyo berniat menjadi Geisha yang sukses setelah cinta pada pandangan pertamanya terhadap seorang pria yang memberinyakembang gula. Singkat cerita, Chiyo berganti nama menjadi Sayuri, dan menjadi Geisha paling populer karena kecantikan dan kemampuannya. Tidak hanya sampai disitu, hidup Sayuri masih bergolak dengan berbagai kejadian.

Secara keseluruhan, saya suka dengan novel Memoirs of A Geisha ini. Penceritaan setting Jepang jaman dulu dapat banget. Alurnya bagus, konflik yang terbangun dalam novel dengan 400 halaman lebih ini top banget. Tak heran novel ini masuk daftar wajib baca bagi mahasiswa sastra hehe. Kalau ada yang tidak saya suka dari novel ini, adalah pencitraannya yang vulgar. Tetapi, karena termasuk novel 'berat' bisa agak aman dari jangkauan remaja ya.

Setelah selesai membaca novel ini, ada sedikit kerancuan yang saya rasakan. Di novel dikatakan bahwa  Geisha itu seniman, mereka tidak hanya cantik tapi juga dituntut untuk bisa menari dan memainkan musik. Tapi di satu sisi juga ada lelang keperawanan. Penawaran tertinggi yang berhak mendapatkannya. Kalau bukan pelacur, memang ada kata lain selain itu untuk para Geisha ini? Jadi kesimpulan awal saya, Geisha ini pelacur tingkat tinggi ya. Cuma orang-orang kaya yang bisa 'pakai.

Tetapi kemudian saya mendapatkan sebuah kenyataan yang mengejutkan, bahwa Arthur Golden, si penulis. Sudah memutarbalikan fakta tentang Geisha ini. Bahkan seorang Geisha yang menjadi narasumber si Arthur ini pun sudah melayangkan protes. Elahdalah, kok jadi ruwet yak. Mungkin saja bagi si Arthur, dia hanya menggali cerita, namanya novel kan fiksi ya. Jadi inget sama drama korea 'Hwang Jini', di situ juga diterangkan kalau gisaeng itu adalah seniman. Tapi bagi masyarakat kebanyakan mereka dianggap pelacur.


1 komentar on "Memoirs of A Geisha"
  1. jadi sebenarnya kalo di jepang geisha ini aslinya apa, mba? aku juga pas liat filmnya ngrasa kok ini sama dengan pelacur tingkat tinggi. tapi kerampilannya menari memang bagus. untuk bukunya aku belum baca, hehe

    BalasHapus